![]() |
| Hati-hati |
4
Playboy jempolan
Langkah menjadi remaja rupanya tak semudah yang aku pikirkan sebelumnya. Metamorfosis yang begitu cepat terjadi pada diriku membuatku semakin akrab berkawan dengan gejolak yang tak dapat kukenal sebelumnya. Kadang aku bertanya pada bintang yang berkilauan, tentang rasa, tentang pesona, tentang arti hidup. Saat kutemui, sang bintang tertegun menyapa dengan putih sinarnya pada wajahku, seakan mengatakan rasa seperti ini harus aku hadapi dan harus dipertaruhkan. Semakin kubertanya semakin tak kumengerti tentang semua ini.
Sewaktu masih kanak-kanak aku sering berharap agar aku cepat dewasa. Kadang aku memakai baju-baju ayahku secara sembunyi-sembunyi, sambil bergaya–gaya di depan cermin layaknya orang dewasa sesungguhnya.
“Macho man!.”
Begitu yang selalu aku ucapkan ketika di depan cermin. Waktu itu pikirku orang dewasa itu serba menyenangkan, yang kulihat dewasa itu identik dengan mandiri, teguh, kuat dan yang paling penting aku bisa mewujudkan setiap impianku tanpa selalu bergantung pada orang tua. Tak terasa masa-masa yang aku tunggu-tunggu itu akhirnya tiba juga. Saat ini umurku beranjak 17 tahun. Aku sekolah di SMA N 8 Surakarta kelas XI. Bersama Surya aku berangkat ke sekolah dengan naik angkut nomor 11 A dari desaku hingga sekolah. Jarak sekolah dari rumahku memang tergolong jauh, sekitar 20 kilo meter.
Surya, alias menthol panggilan akrabnya memang teman satu-satunya dari desaku yang bersekolah ke kota Solo. Ia teman sejak SMPku. Penampilannya keren tapi lucu. Ia mudah sekali mendapatkan teman. Hal ini tidak lain karena sifatnya yang mudah bergaul. Untuk urusan cewek, jangan ditanya ia sudah tak terhitung lagi berapa gadis yang telah jatuh bertekuk lutut di pelukannya. Kurasa itu kelebihan yang tidak pernah aku dapatkan dan sering membuat iri teman-teman cowoknya. Termasuk aku. Sering ia menasihatiku untuk segera mencari pacar agar dapat main bersama. Entah bagaimana si anak itu cepat sekali ia mendapatkan cewek. Anehnya kelebihannnya itu juga diimbangi dengan kelemahannya, yaitu cepat sekali ia juga kehilangan cewek, bahkan suatu ketika dalam seminggu ia pernah berganti cewek tiga kali, Senin mendapatkan Rita, Rabu putus, Kamis jadian dengan Vina, sabtu melayang dan entah ilmu apa yang digunakan ia bermalam mingguan dengan Siska anak pemilik toko kelontong yang terkenal galak, yakni Markum Marhasan. Mengenai Siska, Aku punya alasan mengapa Surya Sang Playboy jempolan itu memacarinya.
Beberapa waktu yang lalu kami sempat dimaki-maki ayah Siska lantaran genjrang-genjreng di depan toko kelontongnyanya hingga larut malam. Malam itu kami lagi asyik-asyiknya menyanyikan lagu-lagu kesukaan kami seperti Begitu Indah miliknya Padi, Pelangi karya Boomerang, Roman Picisan milik Dewa 19 dan baru setengah menyanyikan lagunya Slank yang berjudul Mars Slank, tiba-tiba kami dikejutkan dengan suara yang menggelegar dari balik pintu.
“Sudah malam! Kalian bisa diam tidak????”
Kami yang sebelumnya asyik dengan suara vokal yang dimirip-miripkan suaranya Kaka Slank walau jelas fals dan genjrang-genjreng sok musisi hebat seketika mendadak terhenti. Kami saling memandangi satu sama lain dan mencari sumber suara berasal. Kontan saja kami tersentak setelah mengetahui ternyata suara itu berasal dari sosok yang tinggi dengan muka yang tebal dan alis yang super lebat menjulang ke atas layaknya bintang film Boliwood, tak lain dan tak bukan ia adalah Markum Marhasan, pemilik toko kelontong itu.
“Dasar anak-anak tak tahu aturan, segera bubar ato aku acak-acak kalian!!”






