NOVEL: BAGIAN SATU

Senin, 18 April 2011
Ia tak bisa berdusta, ibaratnya pelita kejujuran
 
1
Hati yang bicara
Bukanlah Jibril aku ini terlahir ke dunia yang mampu melesat melintasi dimensi waktu, yang membawa pesan dari Tuhan bagi makhluknya. kau bawakan kabar kebenaran dan kemenangan bagi mereka yang berhak.
Sementara jiwa ini ada setelah Tuhan meniupkan roh pada sepotong daging. Rasa syukur mengalir meretas dari sanubari atas karunia sang Pencipta, sehingga para malaikat dan setan pun diperintahkan sujud di hadapan manusia. Ialah  Nabi Adam as, manusia pertama yang tercipta. Merupakan bapak dari setiap manusia.
Mengalun merdu lagu “Aku Milikmu” milik Dewa 19 karya hebat Ahmad Dhany kudengar dari Personal Computerku. Hemm seketika, rasanya seperti itulah rasanya hatikuku kini. Segera saja lamunanku terbang melesat menggenggam erat bayang-bayang sewajah ayu nan indah di sana. Bergetarlah hati ini setiap ku diperjumpakan Tuhan olehnya. Rasa-rasanya hatiku mau copot saja,.Satu detik, semenit, sejam, sehari, sebulan, setahun, hingga kini, tak ada yang berubah ketika aku diperjumpakan Tuhan dengannya, masih seperti dulu hati ini dibuatnya bergetar hebat.
Duh Gusti apakah ini jawaban atas setiap munajatku terhadap-Mu, selalu dalam sujudku kupasrahkan setiap rahasiamu atas makhlukmu, jodoh, umur, dan  rezeki. Kiranya Kauperkenankan aku ingin sekali waktu merasakan cinta pada makhlukmu yang cantik itu dengan sebenar-benarnya, bukan sebuah kepura-puraan. Rasa yang mampu menenggelamkan keegoisan semata. Karna aku percaya kalau cinta itu mengindahkan keadaan, bukannya menghancurkan; menguatkan hati, bukannya mengiris sadis; mendewasakan akal, bukannya ego semata yang hanya melihat keuntungan diri. Aku juga percaya kalau cinta itu bukanlah sebuah objek yang terukur dengan gelimang harta, dengan secangkir kata-kata yang tertuang menjadi rayuan yang menyembulkan aroma kebohongan. Menurutku cinta itu sesuatu yang sulit dijelaskan, ia hadir menembus dimensi waktu seperti Jibril, datangnya begitu saja tanpa terencana. Ia merobohkan dinding-dinding yang selama ini kokoh menjulang tinggi. Agama, ras, suku, keturunan, kekayaan, derajat pun tak mampu menghentikannya. Semuanya atas kerja tangan-tangan-Mu wahai Tuhan.
Bekedip-kedip layar monitorku masih setia menemani malamku, semburat warna-warni terpancar darinya. Seakan-akan ingin bercakap-cakap denganku. Suara TV bersahut samar menyelinap ke telinga. Rupanya kedua orang tuaku sedang asyik dengan sinetron kesayangannya, sinetron yang tokoh utamanya selalu menangis di setiap episodenya, sinetron yang suara batinnya terdengar sangat jelas. Sesekali kulihat mereka berdua asyik menikmati setiap adegan dalam sinetron. Mereka tak tahu betapa putranya saat ini sedang dilanda rasa yang aneh, yang sebelumnya tak pernah kurasa.Tuhan, semoga saja ini sesuatu yang nantinya tidak mendatangkan keburukan di kemudian hari tetapi ini adalah karunia-Mu yang menyejukkan rasa dahaga dan menjadi semangat di tengah gurun dunia yang selalu mengganas.
Lamunanku masih melayang tinggi, sekarang tinggal di atap rumah-rumah penduduk desa, melompat-lompat kegirangan dengan sepasang sayapnya yang indah seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan  oleh ayahnya. Aku tersipu malu, kurasakan dinding-dinding tembok menggodaku dan menertawaiku, jam dinding pun seakan tersipu melihat tingkahku yang aneh. Benar saja, rasanya ini mimpi yang menyeberang ke dunia nyata, dunia yang mendidikku untuk selalu belajar memaknai arti di setiap perjalanan hidup, dunia yang kata orang-orang begitu kejam dan sadis, lain haknya dengan mimpi. Mimpi merupakan dunia yang unik. Di sana seolah yang ada hanyalah kesenangan, dunia penuh kebahagiaan. dalam dunia mimpi apapun keinginan kita akan terwujud.
Sejenak ku tersadar, tubuhku yang kecil seakan bersiap menghadapi setiap konsekuensi yang ada, yang ditimbulkan oleh munculnya dunia impian ke dunia nyata tersebut. Kuucapkan terima kasih pada PC bututku, aku juga kasihan padanya, kelihatan ia kelelahan karena semalam suntuk menemaniku menyelesaikan tugas-tugas yang rasanya tak ada habisnya. Ia tersenyum kecil, senyum perpisahan, dan akhirnya ia terlelap, aku pun segera ke kamar menyandarkan pikiran dan tubuhku, segera saja lamunanku saat itu kembali dan dunia nyata menampakkan batang hidungnya. Kurasakan tubuhku merasakan lelah yang luar biasa seakan tak bertuan lagi dan dunia menjadi gelap gulita, dan aku mulai tak sadar lagi hingga akhirnya aku pulas dengan senyum tipis yang mengembang. Senyum rasa malu pada perasaan yang kini melandaku. tapi biarlah kunimati ini semua, karena ini hati yang bicara.
Bersambung...

0 komentar:

Posting Komentar