NOVEL: BAGIAN TIGA

Selasa, 19 April 2011
Selalu ada wanita hebat di balik kesuksesan pria
3
Perempuan hebat

Belajar mengukir sejarah perjalanan hidup membuatku selalu mencari yang terbaik dari yang terbaik sekalipun. Tampaknya memang begitu, setiap jengkal langkahku selalu ku berharap payung keberhasilan meneduhkan peluhku yang tak terucap. Walau raga ini tak sekokoh benteng vastenburg peninggalan kolonial belanda di Surakarta, tak sekuat batu karang yang selalu diterpa gelombang dasyat. Namun mimpi dan cita ini yang selalu bergelora pada anak desa ini mampu menenggelamkan betapa beratnya dunia nyata ini, yang tak seindah dunia mimpi. Ini semua bukan kebetulan belaka, ini tentu ada motivator handal yang ada dibalik ketegaranku. Lihat saja betapa orang-orang hebat selalu ada wanita-wanita hebat yang ada di balik kesuksesan itu. Begitu halnya dengan diri ini, lalu siapa yang ada di balik kenekatanku berani bermimpi menjadi dosen dan pengusaha. Tentu bukan isteri, karena aku masih bujang tulen, tak lain dan tak bukan ia adalah wanita hebat yang tak lain adalah ibuku.

Sunarsi adalah nama ibuku. Betapa sejak kecil aku selalu bergantung padanya. Pribadinya yang luwes membuat aku lebih dekat padanya daripada sang ayah. Ibuku selalu menjadi pelindungku ketika ayah memarahiku. Teringat betul ketika aku masih bersekolah di SD Jabung 1, waktu itu aku ngambek tidak mau berangkat ke sekolah hanya gara-gara aku lupa mengerjakan PR matematika. Walau ibuku sudah membujuk dengan beribu rayuan, bahwa Ibu Siti guru kelasku tidak akan marah. Aku tetap saja ngambek karena tidak berani ke sekolah. Hal ini membuat ayahku turun tangan. Dengan suara yang berwibawa ia menyuruhku segera memakai seragam. Lantaran aku masih tetap tidak menuruti nasihatnya, segera ia memukul meja tamu. Mendengar suara gelegar meja yang dipukul ayah kontan saja aku ketakutan dan menangis. Saat ibu sosok ibu yang aku butuhkan. Ibu menjadi pelindung yang meneduhkan. Ibu membelaku dan biasanya berujar

“Sudahlah namanya juga anak-anak, jangan begitu.”

dan akhirnya berujar

“Sudah nggak apa-apa, masak jagoan ibu menangis.”
Setelah itu biasanya ayah selalu mengalah dan menuruti bujuk ibuku. Ayah kemudian menjadi pahlawanku, ia mengantarkan aku sampai ke sekolah dengan sepeda kumbangnya. Mengenai sepeda kumbang ini, ada nilai sejarah yang tidak pernah dilupakan oleh ayahku. Bagaimana ceritanya nanti akan aku ceritakan pada bagian lain.

Ibuku orang yang sangat perhatian padaku. Dari semenjak aku mengenyam bangku pendidikan pertama hingga lulus Sekolah Menengah Atas selalu ibuku yang mengambil rapor hasil belajarku. Walau datang dari desa ibuku tidak kalah cantik dengan ibu dari teman-temanku yang datang dari kota. Walau dengan baju sederhana namun terlihat anggun. Ibuku mengajarkan aku untuk tidak malu dalam berbagai hal jika memang benar dan demi cita-cita.

“Meskipun kamu dari keluarga sederhana kamu jangan malu dalam bermimpi, kamu boleh malu jika kamu berbuat salah, boleh malu jika kamu tidak bersyukur pada kemurahan Tuhan.”
 Begitu pesan ibuku dari kecil yang selalu aku genggam erat dalam memori otakku. Aku ingat sekali ibuku berpesan seperti itu ketika aku berumur 15 tahun. Saat itu saya ditanyai setelah lulus SD kelak mau melanjutkan SMA atau sekolah kejuruan. Aku takjub mendengarkan pertanyaannya. Takjub karena ibuku begitu perhatian padaku. Benar saja di desaku biasanya anak yang telah lulus SMP tidak lagi melanjutkan sekolah lagi, mereka biasanya langsung bekerja entah karena kendala ekonomi atau memang anaknya yang tidak berminat dengan pendidikan.

Di desaku memang aneh, Boni, anaknya Pak Syamsul, pemilik konveksi tidak mau melanjutkan sekolah walau kedua orang tuanya berkali-kali merayunya. Bahkan jika mau melanjutkan sekolah, ia akan dibelikan motor F1ZR. Motor F1ZR saat itu menjadi impian kebanyakan anak muda. Selain handal di jalanan biasanya dengan motor tersebut, seorang pemuda akan mudah menggaet gadis-gadis dari yang paling sederhana hingga yang paling cantik sekalipun, dari anaknya petani ulung sampai anak kepala desa. Namun di satu sisi Tomi, sang jawara kelas abadi dari SD hingga SMP harus mengubur mimpinya untuk melanjutkan sekolah ke SMA gara-gara orang tuanya tidak mampu membiayai. Ayahnya hanya seorang petani kecil yang hanya mengandalkan tanah sepetak.

Begitulah ibuku, darinya aku diajarkan untuk berani bermimpi. Walau lahir dari keluarga sederhana aku diajarkan untuk tidak takut dengan mimpi.

“Semiskin-miskin orang adalah mereka yang tidak mempunyai impian.”

Begitu nasihat ibuku ketika membesarkan hatiku dikala sedih dan akhirnya menangis gara-gara tak kuasa menahan besarnya badai kehidupan yang kadang menerpa. Hebat bukan ibuku?

Bersambung...

0 komentar:

Posting Komentar