NOVEL: BAGIAN EMPAT

Jumat, 22 April 2011
Hati-hati
4
Playboy jempolan
Langkah menjadi remaja rupanya tak semudah yang aku pikirkan sebelumnya. Metamorfosis yang begitu cepat terjadi pada diriku membuatku semakin akrab berkawan dengan gejolak yang tak dapat kukenal sebelumnya. Kadang aku bertanya pada bintang yang berkilauan, tentang rasa, tentang pesona, tentang arti hidup. Saat kutemui, sang bintang tertegun menyapa dengan putih sinarnya pada wajahku, seakan mengatakan rasa seperti ini harus aku hadapi dan harus dipertaruhkan. Semakin kubertanya semakin tak kumengerti tentang semua ini.
Sewaktu masih kanak-kanak aku sering berharap agar aku cepat dewasa. Kadang aku memakai baju-baju ayahku secara sembunyi-sembunyi, sambil bergaya–gaya di depan cermin layaknya orang dewasa sesungguhnya.
“Macho man!.”
Begitu yang selalu aku ucapkan ketika di depan cermin. Waktu itu pikirku orang dewasa itu serba menyenangkan, yang kulihat dewasa itu identik dengan mandiri, teguh, kuat dan yang paling penting aku bisa mewujudkan setiap impianku tanpa selalu bergantung pada orang tua. Tak terasa masa-masa yang aku tunggu-tunggu itu akhirnya tiba juga. Saat ini umurku beranjak 17 tahun. Aku sekolah di SMA N 8 Surakarta kelas XI. Bersama Surya aku berangkat ke sekolah dengan naik angkut nomor 11 A dari desaku hingga sekolah. Jarak sekolah dari rumahku memang tergolong jauh, sekitar 20 kilo meter.
Surya, alias menthol panggilan akrabnya memang teman satu-satunya dari desaku yang bersekolah ke kota Solo. Ia teman sejak SMPku.  Penampilannya keren tapi lucu. Ia mudah sekali mendapatkan teman. Hal ini tidak lain karena sifatnya yang mudah bergaul. Untuk urusan cewek, jangan ditanya ia sudah tak terhitung lagi berapa gadis yang telah jatuh bertekuk lutut di pelukannya. Kurasa itu kelebihan yang tidak pernah aku dapatkan dan sering membuat iri teman-teman cowoknya. Termasuk aku. Sering ia menasihatiku untuk segera mencari pacar agar dapat main bersama. Entah bagaimana si anak itu cepat sekali ia mendapatkan cewek. Anehnya kelebihannnya itu juga diimbangi dengan kelemahannya, yaitu cepat sekali ia juga kehilangan cewek, bahkan suatu ketika dalam seminggu ia pernah berganti cewek tiga kali, Senin mendapatkan Rita, Rabu putus, Kamis jadian dengan Vina, sabtu melayang dan entah ilmu apa yang digunakan ia bermalam mingguan dengan Siska anak pemilik toko kelontong yang terkenal galak, yakni Markum Marhasan. Mengenai Siska, Aku punya alasan mengapa Surya Sang Playboy jempolan itu memacarinya. 
Beberapa waktu yang lalu kami sempat dimaki-maki  ayah Siska lantaran genjrang-genjreng di depan toko kelontongnyanya hingga larut malam. Malam itu kami lagi asyik-asyiknya menyanyikan lagu-lagu kesukaan kami seperti Begitu Indah miliknya Padi, Pelangi karya Boomerang, Roman Picisan milik Dewa 19 dan baru setengah menyanyikan lagunya Slank yang berjudul Mars Slank, tiba-tiba kami dikejutkan dengan suara yang menggelegar dari balik pintu.
“Sudah malam! Kalian bisa diam tidak????”
Kami yang sebelumnya asyik dengan suara vokal yang dimirip-miripkan suaranya Kaka Slank walau jelas fals dan genjrang-genjreng sok musisi hebat seketika mendadak terhenti. Kami saling memandangi satu sama lain dan mencari sumber suara berasal. Kontan saja kami tersentak setelah mengetahui  ternyata suara itu berasal dari sosok yang tinggi dengan muka yang tebal dan alis yang super lebat menjulang ke atas layaknya bintang film Boliwood, tak lain dan tak bukan ia adalah Markum Marhasan, pemilik toko kelontong itu.
“Dasar anak-anak tak tahu aturan, segera bubar ato aku acak-acak kalian!!”

Kontan saja kami pontang-panting berhamburan seperti anak ayam yang menghindar dari terkaman musang. Ketika itu entah bagaimana kejadiannya gitar kami tertinggal di depan rumah Pak Markum yang super kelewat galak itu. Kami berlari dan bersembunyi di balik tumpukan tong kosong yang jaraknya kurang lebih 30 meter dari rumah Pak Markum. Setelah beberapa saat Surya mulai merasa ada yang hilang, setelah menyadari ternyata gitar kesayangannya masih tertinggal. Mengetahui gitarnya tertinggal di depan rumah Pak Markum, kontan saja Surya memaki-maki semau-maunya sendiri. Pikirannya kini di antara dua pilihan, ia berhadapan dengan laki-laki super kelewat galak itu dan mengambil gitarnya atau ia tak akan pernah lagi melihat gitar merek Yamaha kesayangannya itu. Dari balik tumpukan tong kosong itu, kami mengamati gerak-gerik lelaki super kelewat galak itu. Kuperhatikan Markum masih memaki-maki walau suaranya tidak jelas kami dengar. Dan celaka, hal yang dibenci Surya terjadi, Markum mengambil gitar Surya dan dibawa ke dalam rumah.
“Sial Si Markum, gitarku di bawa masuk ke rumah.”
Gerutu Surya  melihat kenyataan ia harus berpisah dengan gitarnya sambil mengintai gerak-gerik Markum dari tempat persembunyian kami. Ia semakin kesal karena ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menggerutu sambil menyumpahi Markum Marhasan orang super kelewat galak. Kulirik tingkahnya membuat aku tersenyum kecil, rupanya Si Playboy jempolan tak ada apa-apanya di depan Harimau dari India, Markum Marhasan.
“Kamu kenapa ini malah senyum-senyum? Senang melihat gitarku raib dibawa Harimau India itu?”
Tak sedikit pun aku jawab gerutu Sang playboy itu tapi semakin lebar saja senyumku hingga tak tertahankan dan aku terbahak-bahak.
“Dasar tak waras melihat temannya kesusahan malah tertawa.”
Cerocornya sambil menggaruk-garuk kepalanya

“Maaf kawan, kamu ini lucu sang playboy jempolan sepertimu  yang handal menakhukkan hati para gadis ternyata tak berkutik menghadapi Markum. ”
Aku menjelaskan atas sikapku itu pada Surya.
“Itu lain ceritanya kawan.”
Surya membela sikapnya itu, namun semakin kuperhatikan wajah kesalnya Surya semakin lucu saja terlihat. Menyaksikan tampang sang Playboy tak berkutik sama-sekali. Rupanya hukum biologi tentang rantai makanan itu memang benar adanya. Dan semakin aku sadari mengapa Surya begitu kesal dengan raibnya gitar itu, tak lain lantaran gitar itu salah satu jurus andalan Surya dalam menakhlukkan hati para gadis incarannya. Ia memang pandai memanikan gitar. Lewat petikan dasyat gitarnya mampu menghasilkan nada yang nyaring dan ditambah dengan suara khas playboynya  yang dibuat-buat mirip dengan penyanyi aslinya menghasilkan lagu yang seakan membawa hawa rayuan maut. Itu juga yang ia lakukan ketika mampu meluluhkan hati Rita, padahal saat itu Rita sudah menjalin hubungan dengan Jarot, pemuda yang paling suka pamer kekayaan ayahnya.
“Aku tahu kenapa kamu sampai sedihnya seperti itu? Itukan senjata pamungkasmu dalam menakhlukkan hati gadis-gadis bukan?”
Aku mencoba menebak atas sikap Surya yang kesal   itu.
“Itulah Ndra, yang membuatku marah.”
Melihat pengakuan polos dari Surya Adi Pratama, Sang Playboy jempolan di kampungku, Sang penakhluk hati gadis-gadis itu membuat aku semakin tersenyum geli. Keadaan yang demikian semakin membuatku tertarik menggodanya.
“Masak kamu menyerah? Sepengetahuanku itu, palayboy tak kenal patah arang, selalu ada cara dalam menghadapi masalah.”
“Kamu benar kawan, Markum boleh mengambil gitarku tapi Siska anaknya harus menjadi gantinya.”
Surya membenarkan pernyataanku tadi. Mendengar jawaban Surya lantas aku balik bertanya di balik pernyataannya tersebut.
“Maksudmu kamu akan memacari Siska?”
Mendengar pertanyaanku, naluri playboy yang pantang menyerah Surya muncul.
“Itulah akibatnya kalau berurusan denganku kawan.”
“Lalu akan kau kemanakan Vina?” Desakku.
“Jalan satu-satunya harus putus kawan.” Dengan nada yang ringan, naluri playboy yang suka gonta-ganti cewek muncul.lalu dengan penasaran aku pertanyakan alasan mengakhiri hubungan dengan Vina.
“Dengan alasan apa kau memutuskannya?”
“Itu urusanku kawan, kamu tunggu saja langkahku. Saat Vina putus denganku nanti pasti ia kelabakan dan butuh seorang sebagai tempat berbagi, saat itu aku saranin kamu mendekatinya kawan. Itu lebih baik baik untuk Rita danbaik untuk kamu. Rita akan mendapat tempat berbagi dan kamu sebaliknya akan mendapatkan gadis. Bukankah kamu menginginkan sekali merasakan pacaran.”
Surya tak menjawab pertanyaanku, tetapi justru menasihatiku seakan seperti yang dilakukan guru terhadap muridnya.ia justru menyarankanku untuk menggantikan posisinya di hadapan Vina.
Dasar playboy cap kadal. Enak saja kamu, nggak lah itu kan bekasmu.” Aku mengumpat setelah mendengar nasihat gila Surya. Mendengar jawabanku Surya semakin menimpaliku pertanyaan yang membuatku tersudut.
“Lalu gadis model seperti apa impianmu itu.”
Aku bingung menjawab pertanyaan Sang playboy, tetapi dengan cepat aku menimpali dengan jawaban yang semakin membuatnya berandai-andai.
“Kamu tidak perlu tahu kawan.”
Sambil beranjak dari tempat persembunyian, Surya masih mendesakku untuk mengatakan siapa gadis yang aku maksud itu. Tak tahan dengan desakan Surya aku berlari kecil, Surya menyusulku dari belakang dengan masih berusaha mendesakku. Kami menuju rumah masing-masing. Hingga akhirnya kami dipisahkan sebuah perempatan jalan di kampungku. Surya berbelok ke timur melewati gang dan aku lurus. Ketika handak berpisah dengan suara khas playboynya ia berucap “Markum akan merasakan kawan.”
Bersambung....

1 komentar:

{ Unknown } at: 24 April 2011 pukul 23.59 mengatakan...

lanjutkan gan, aku tungu bagian 5-dst

Posting Komentar